Prabowo Subianto Tegas Menolak Fenomena Wisata Bencana: Seruan untuk Fokus pada Aksi Nyata – Fenomena wisata bencana menjadi sorotan tajam Presiden Prabowo Subianto. Dalam sebuah sidang kabinet paripurna, beliau menegaskan bahwa pejabat maupun tokoh publik tidak seharusnya datang ke lokasi bencana hanya untuk berfoto atau sekadar menunjukkan kehadiran. Menurutnya, tindakan tersebut bukan saja tidak bermanfaat, tetapi juga berpotensi melukai perasaan masyarakat yang sedang berjuang menghadapi kesulitan. Artikel ini akan mengupas secara mendalam pernyataan Prabowo, latar belakang fenomena wisata bencana, dampaknya terhadap masyarakat, serta langkah-langkah yang seharusnya dilakukan pejabat dalam penanganan bencana.
Budaya Wisata Bencana: Sebuah Kritik Sosial
- Definisi: Wisata bencana merujuk pada kebiasaan pihak tertentu, terutama pejabat, yang datang ke lokasi bencana tanpa tujuan jelas selain dokumentasi pribadi atau pencitraan.
- Fenomena yang berkembang: Dalam beberapa tahun deposit 10rb terakhir, muncul kecenderungan pejabat hadir di lokasi bencana dengan rombongan besar, kamera, dan publikasi, namun minim kontribusi nyata.
- Kritik Prabowo: Presiden menilai hal ini sebagai budaya yang tidak sehat, karena menjadikan masyarakat terdampak sebagai objek penderitaan untuk kepentingan politik atau popularitas.
Dampak Negatif Wisata Bencana
- Psikologis masyarakat
- Kehadiran pejabat yang hanya berfoto dapat menimbulkan rasa kecewa dan marah.
- Korban merasa penderitaan mereka dijadikan tontonan, bukan prioritas penanganan.
- Efektivitas penanganan bencana
- Rombongan pejabat yang datang tanpa koordinasi sering menghambat kerja tim penyelamat.
- Fokus aparat lapangan bisa teralihkan untuk melayani kunjungan pejabat, bukan membantu korban.
- Citra pemerintah
- Publik menilai pejabat lebih mementingkan pencitraan daripada aksi nyata.
- Menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
Seruan Prabowo: Fokus pada Aksi Nyata
Prabowo menekankan bahwa pejabat yang datang ke lokasi bencana harus memiliki tugas dan portofolio jelas. Kehadiran mereka seharusnya untuk:
- Mengidentifikasi masalah utama di lapangan, seperti kekurangan air bersih, bahan bakar, atau akses transportasi.
- Memberikan solusi cepat dan konkret.
- Menjadi penghubung antara masyarakat terdampak dengan pemerintah pusat agar bantuan tersalurkan tepat sasaran.
Apresiasi Terhadap Petugas Lapangan
Meski mengkritik fenomena wisata bencana, Prabowo tetap bonus new member 100 memberikan apresiasi kepada jajaran TNI, Polri, kementerian, dan perusahaan BUMN yang turun langsung membantu korban banjir di Sumatra.
- TNI dan Polri: Menyediakan tenaga evakuasi dan distribusi logistik.
- Kementerian dan lembaga: Memberikan dukungan kesehatan, energi, dan infrastruktur.
- BUMN: Pertamina dan PLN disebut aktif mendukung kebutuhan energi masyarakat terdampak.
Analisis Sosial dan Politik
Fenomena wisata bencana bukan hanya persoalan etika, tetapi juga mencerminkan budaya politik pencitraan.
- Budaya pencitraan: Pejabat merasa perlu menunjukkan kehadiran agar dianggap peduli, meski tanpa kontribusi nyata.
- Konsekuensi politik: Publik semakin kritis terhadap pejabat yang hanya tampil di media tanpa aksi nyata.
- Perubahan paradigma: Pernyataan Prabowo dapat menjadi momentum untuk mengubah budaya pejabat dalam menangani bencana.
Solusi untuk Menghapus Budaya Wisata Bencana
- Regulasi kunjungan pejabat
- Membatasi jumlah pejabat yang datang ke lokasi bencana.
- Mengutamakan pejabat yang memiliki kewenangan langsung dalam penanganan.
- Transparansi aksi
- Pendidikan etika kepemimpinan
- Menanamkan nilai empati dan tanggung jawab sosial kepada pejabat.
- Mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah, bukan panggung pencitraan.
- Partisipasi masyarakat
- Memberikan ruang bagi masyarakat untuk menilai dan mengawasi tindakan pejabat.
- Mendorong kolaborasi antara pemerintah dan komunitas lokal.
Refleksi Budaya dan Empati
Budaya wisata bencana menunjukkan adanya kesenjangan empati antara pejabat dan masyarakat.
- Empati sejati: Kehadiran pejabat seharusnya membawa solusi, bukan sekadar simbol.
- Nilai kemanusiaan: Bencana adalah tragedi yang membutuhkan solidaritas, bukan panggung politik.
- Pesan moral: Pemimpin sejati hadir untuk meringankan beban rakyat, bukan menambah luka dengan sikap tidak sensitif.
Kesimpulan
Pernyataan tegas Prabowo Subianto tentang budaya wisata bencana menjadi peringatan keras bagi pejabat dan tokoh publik. Bencana bukanlah arena pencitraan, melainkan panggilan kemanusiaan yang menuntut aksi nyata. Dengan menghapus budaya wisata bencana, pemerintah dapat membangun kepercayaan masyarakat, memperkuat solidaritas, dan memastikan penanganan bencana berjalan efektif.
